<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-734505819861578117</id><updated>2009-12-18T01:17:59.779-08:00</updated><title type='text'>Pesona Nusantara</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04257815193159286068</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-734505819861578117.post-1368641924000280833</id><published>2008-12-17T19:24:00.001-08:00</published><updated>2008-12-18T20:32:35.757-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ponorogo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gs2008'/><title type='text'>Ponorogo Menebar Pesona</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img title="40px-Lambang_propinsi_jatim" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; border-right-width: 0px" height="66" alt="40px-Lambang_propinsi_jatim" src="http://lh3.ggpht.com/_gLOruRGwPeI/SUSS5bMtvfI/AAAAAAAAAf4/U3Z--R5S5KY/kabupaten_ponorogo%5B3%5D.jpg" width="60" align="left" border="0" /&gt; Alam yang indah merupakan daya tarik tersendiri apalagi ditambah meriahnya pesta adat. Ya ponorogo lah yang memiliki itu semua. Disamping memiliki alam yang asri ponorogo juga memiliki kesenian tradisional yang sangat menarik untuk dinikmati. Cotohnya &amp;quot;Reyog&amp;quot; yang menjadi andalan sekaligus primadona di kota yang dikenal dengan julukan kota reyog tersebut. Berikut cuplikan mitos asal muasal reog:&amp;#160;&amp;#160; &lt;/p&gt;  &lt;blockquote&gt;   &lt;p&gt;&amp;#160; &lt;em&gt;&amp;quot;Patih Bujang Ganong meliuk-liukkan tubuhnya.Mencoba menghindar dari sergapan Singo Barong dan Dhadhak Merak.Sembari ketakutan,sosok bermuka merah dengan rambut acak-acakan di depan wajahnya itu berlari-lari menuju Raja Kelana Sewandana,yang sedang gundah gulana menanti cinta &lt;img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px" src="http://www.geocities.com/trihariakbar/Cerita-reyog.jpeg" align="right" /&gt; Putri Songga Langit,Putri Raja Kerajaan Kediri.Mendapat laporan sang patih,Kelana Sewandana pun murka.         &lt;br /&gt;&amp;#160;&amp;#160; Senjata pusaka cemeti Pecut Samandiman pun diarih,dan digunakan Kelana Sewandana untuk&amp;#160; menghajar Singa Barong dan Dhadhak Merak.Dua binatang yang awalnya ganas dan beringas itu pun tunduk.Dengan satu lecutan,Kelana Sewandana mengutuk mereka menjadi Reog,binatang berkepala dua.Mitos awal mula bersatunya Singo Barong dan Dhadhak Merak itu diabadikan dalam pagelaran Reog asal kota ponorogo,kemudian dikenal Reog Ponorogo.         &lt;br /&gt;&amp;#160;&amp;#160; Tidak jelas benar,kapan pertama kali kesenian Reog Ponorogo dimainkan.Yang pasti,kesenian yang awalnya adalah kesenian rakyat itu selalu hadir dalam event-event khusus dan menjadi ikon kota seluas 1.402 m persegi itu.Terutama event pergantian tahun Jawa atau Grebeg Suro,yang sekaligus bersamaan dengan pergantian tahun Islam.&amp;quot;.&lt;/em&gt; Mitos yang mengingatkan kita akan sejarah perjalanan nenek moyang dahulu. &lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&amp;#160; Selain itu setiap tanggal 1 Muharam Suro, kota Ponorogo menyelenggarakan Grebeg Suro yang juga merupakan hari lahir Kota Ponorogo. Dalam even Grebeg Suro ini diadakan Kirab Pusaka yang biasa&amp;#160; &lt;img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px" src="http://www.geocities.com/trihariakbar/perayaan-reyog.jpeg" align="left" /&gt; diselenggarakan sehari sebelum tanggal 1 Muharram. Pusaka peninggalan pemimpin Ponorogo jaman dulu,saat masih dalam masa Kerajaan Wengker, diarak bersama pawai pelajar dan pejabat pemerintahan di Kabupaten Ponorogo, dari Makam Batoro Katong (pendiri Ponorogo) di daerah Pasar Pon sebagai kota lama, ke Pendopo Kabupaten. Pada Malam harinya, di aloon-aloon kota, Festival Reog Internasional memasuki babak final. Esok paginya ada acara Larung Do'a di Telaga Ngebel, dimana nasi tumpeng dan kepala kerbau dilarung bersama do'a ke tengah-tengah Danau Ngebel. Even Grebeg Suro ini menjadi salah satu jadwal kalender wisata Jawa Timur.&lt;img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px" src="http://www.geocities.com/trihariakbar/ngebel.jpg" align="right" /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&amp;#160; Disamping itu di ponorogo kita akan disuguhi pemandangan alam yang masih perawan dan belum&amp;#160; tereksploitasi oleh tangan manusia, sebut saja Telaga ngebel. Telaga ini merupakan ikon kedua di Kabupaten Ponorogo setelah kesenian Reog.Obyek wisata ini layak untuk dikunjungi lantaran masih bersuasana alami dan indah. Kondisi seperti ini dipastikan mampu menghilangkan kepenatan atau kelelahan usai didera kesibukan sehari-hari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;blockquote&gt;   &lt;p&gt;&amp;#160;&amp;#160; &lt;img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px" height="141" src="http://www.geocities.com/trihariakbar/Naga-baru-klinting.jpg" width="109" align="left" /&gt; Dibalik itu Telaga Ngebel mempunyai cerita unik yang didasarkan pada kisah seekor ular naga&amp;#160; bernama &amp;quot;Baru Klinting&amp;quot;. Sang Ular ketika bermeditasi secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan. Secara ajaib sang ular menjelma menjadi anak kecil yang mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; Namun tak seorangpun berhasil mencabutnya. Lantas dia sendirilah yang berhasil mencabut lidi itu. Dari lubang bekas lidi tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk Telaga Ngebel.&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160; Meskipun belum pernah menginjakkan kaki di ponorogo tetapi nuansa keindahan sudah terasa dan menjalar diseluruh tubuh bak memanggil-manggil untuk didatangi.dan ke eksotisan nya pun takkan pernah pudar dari ingatan. Angan-angan pun menjalar seperti kenyataan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Taken from: many sources  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:b14db174-a4db-4dfe-9184-c3bcc7a5f671" style="padding-right: 0px; display: inline; padding-left: 0px; float: none; padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-top: 0px"&gt;Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/reyog" rel="tag"&gt;reyog&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/ponorogo" rel="tag"&gt;ponorogo&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/grebeg+suro" rel="tag"&gt;grebeg suro&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/gs2008" rel="tag"&gt;gs2008&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/734505819861578117-1368641924000280833?l=pesona-nusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/feeds/1368641924000280833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/ponorogo-menebar-pesona.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/1368641924000280833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/1368641924000280833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/ponorogo-menebar-pesona.html' title='Ponorogo Menebar Pesona'/><author><name>Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04257815193159286068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='06952615504009023226'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-734505819861578117.post-2976935980313385237</id><published>2008-12-16T23:44:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T23:56:04.901-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata alam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Air terjun'/><title type='text'>Air Terjun - Cobanrondo</title><content type='html'>&lt;p&gt;&amp;#160; Objek wisata Cobanrondo telah berubah, itulah kesan yang saya peroleh setelah lebih dari lima tahun &lt;img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px" src="http://www.geocities.com/trihariakbar/mage1.jpg" align="left" /&gt; tidak pernah berkunjung lagi kelokasi tersebut. Betapa tidak, dulu waktu berkunjung&amp;#160; ke lokasi ini,&amp;#160; nuansa alami masih terasa cukup kental ditandai dengan hijau dan wangi pohon pinus beserta dinginnya udara dan air pegunungan. Sekarang, mungkin karena perubahan cuaca global suhu yang ada sudah tidak sedingin beberapa tahun yang lalu. Pepohonan pinus yang ada nampaknya juga mulai dihiasi dengan warna coklat tanda kekeringan :( Air terjun yang mengalir juga tidak sederas dulu lagi, namun masih mampu meberikan daya tarik untuk dikunjungi. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Objek wisata Cobanrondo telah mengalami pembangunan atau pembenahan terhadap berbagai sarana dan prasarana yang ada. Bisa dilihat dari jalan aspal menuju lokasi yang telah dibangun lebih baik dan mulus mulai gerbang masuk hingga ke areal parkir yang saat ini telah mampu menampung berpuluh-puluh mobil. Kedai-kedai makanan juga banyak didirikan dan berjajar rapi ditepi areal parkir. Fasilitas mushola dan kamar kecil juga dibangun dengan cukup baik, memudahkan pengunjung untuk beribadah disela-sela kegiatan wisatanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160; Sekarang, tidak hanya air terjun yang menjadi sentra wisata di lokasi ini. Pembangunan lokasi&amp;#160;&amp;#160; bermain untuk anak-anak dan kebun binatang mini nampaknya&amp;#160; bisa menjadi alternatif dan mampu sedikit mengurangi konsentrasi kepadatan wisata di sekitar lokasi air terjun. Ya, objek wisata air terjun Cobanrondo ini memang sejak dulu merupakan salah satu tujuan wisata di kabupaten Malang, bersaing erat dengan objek wisata lain semacam Songgoriti, Sengkaling, Selorejo, Selekta dan Cangar. Dan nampaknya pemda setempat memang berusaha untuk menjadikannya sebagai salah satu sumber pemasukan pendapatan daerah melalui pembenahan-pembenahan yang telah dilakukan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Air terjun Cobanrondo memiliki ketinggian 84 meter, berada pada ketinggian 1135 meter dari&lt;img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px" src="http://www.geocities.com/trihariakbar/image2.php.jpg" align="right" /&gt; permukaan air laut, tepatnya didesa Pandesari Kecamatan Pujon, kabupaten malang. Air yang mengalir berasal dari sumber mata air Cemoro Dudo. Objek wisata ini pertamakali dibangun pada tahun 1980 dan merupakan bagian dari wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH), Perum Perhutani Malang. Dari data statistik yang ada, air terjun Cobanrondo memiliki debit air 150 liter/detik, sedangkan pada musim kemarau hanya 90 liter/detik. Selain untuk tujuan wisata, air terjun Cobanrondo juga digunakan untuk pengelolaan air minum melalui PDAM untuk masayrakat Kecamatan Pujon.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Air terjun Cobanrondo memiliki kolam penampungan air yang dangkal, dengan ketinggian yang tidak lebih tinggi dari betis orang dewasa, praktis tidak dimungkinkan bagi pengunjung untuk berenang di dalamnya. Namun dengan dangkalnya kolam penampungan air ini nampaknya mampu menarik minat pengunjung terutama anak-anak kecil untuk bermain-main air tanpa takut tenggelam. Bahkan beberapa anak kecil nampak berbaring atau tidur-tiduran di kolam penampungan air terjun tersebut sambil menikmati kesegaran airnya.&amp;#160;&amp;#160; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt; Di akhir minggu terlebih dihari libur besar semacam lebaran dan tahun baru, kawasan ini memang &lt;img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px" src="http://www.geocities.com/trihariakbar/image3.php.jpg" align="left" /&gt; banyak dipadati oleh pengunjung yang datang dari berbagai tempat dan tak jarang berasal dari luar kota. Sebagian besar pengunjung yang datang didominasi oleh kaum remaja. Mereka menghabiskan waktu ditempat ini dengan duduk-duduk disekitar air terjun, bermain air dibawah limpahan air terjun atau dibagian sungainya. Terkadang juga banyak ditemui duduk bergerombol disalah satu sisi bukit yang menampilkan panorama kota Malang dari ketinggian sambil menikmati jagung bakar. Bagi pengunjung yang ingin berkemah, juga telah disediakan area tersendiri yang berada di lokasi hutan pinus, tak jauh dari loaksi air terjun. Dengan demikian boleh dibilang objek wisata air terjun Cobanrondo, merupakan objek wisata yang telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup lengkap bagi pengunjung untuk dinikmati bersama teman maupun keluarga, secara perorangan maupun berkelompok.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Legenda .............      &lt;br /&gt;Asal-usul Cobanrondo berasal dari sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita yang bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah usai pernikahan mencapai 36 hari (selapan) Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orangtua Dewi Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena baru selapan. Namun keduanya bersikeras pergi berangkat dengan segala resiko apapun yang akan terjadi diperjalanan.       &lt;br /&gt;Ketika dalam perjalanan, keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono yang tidak jelas asl usulnya. Tampaknya Joko Lelolono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Perkelahian tidak dapat dihindarkan, kepada punokawan yang menyertainya Raden baron berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan diseuatu tempat yang ada Cobannya (air terjun). Perkelahian berlangsung dan akhirnya sama-sama gugur, dengan demikian akhirnya Dewi Anjarwati menjadi janda (Jawa, Rondo = Janda).       &lt;br /&gt;Sejak saat itulah, Coban tempat tinggal Anjarwati menanti suaminya dikenal sebagai Coban Rondo. Konon batu besar yang berada dibawah air terjun&amp;#160; merupakan tempat duduk sang putri.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;Sources: &lt;a title="http://navigasi.net/goart.php?a=atcbnrnd" href="http://navigasi.net/goart.php?a=atcbnrnd"&gt;http://navigasi.net/goart.php?a=atcbnrnd&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/734505819861578117-2976935980313385237?l=pesona-nusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/feeds/2976935980313385237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/air-terjun-cobanrondo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/2976935980313385237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/2976935980313385237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/air-terjun-cobanrondo.html' title='Air Terjun - Cobanrondo'/><author><name>Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04257815193159286068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='06952615504009023226'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-734505819861578117.post-6867513345491835754</id><published>2008-12-16T00:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T00:25:13.262-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ponorogo'/><title type='text'>Ponorogo selayang pandang</title><content type='html'>&lt;tbody&gt;&lt;!-- TOKEN --&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td&gt;&lt;center&gt;&lt;img title="kabupaten_ponorogo" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="kabupaten_ponorogo" src="http://lh3.ggpht.com/_gLOruRGwPeI/SUSS5bMtvfI/AAAAAAAAAf4/U3Z--R5S5KY/kabupaten_ponorogo%5B3%5D.jpg?imgmax=800" border="0" height="134" width="108"&gt; &lt;/center&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td style="font-weight: bold; font-size: 8pt; color: rgb(0, 0, 0); font-family: verdana;" align="center" height="24"&gt;&lt;font size="1"&gt;&lt;center&gt;Lambang Kabupaten Ponorogo&lt;/center&gt; &lt;/font&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt; &lt;!-- /TOKEN --&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;A. Selayang Pandang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Menurut salah satu versi cerita rakyat yang  berkembang di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada suatu ketika Raja Bantar  Angin, Kelana Sewandana, ingin melamar seorang puteri dari Kerajaan Kediri,  Dewi Sanggalangit (dalam versi yang lain disebutkan Dewi Ragil Kuning). Akan tetapi,&lt;span class='fullpost'&gt;  dalam perjalanannya Raja tersebut dicegat oleh Singobarong penjaga hutan Lodaya.  Pasukan Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Raja Bantar  Angin dikawal oleh patih Bujanganomdan pasukan &lt;em&gt;warok&lt;/em&gt; (pria yang memiliki  ilmu kanuragan dengan ciri khas pakaian serba hitam). Pertempuran dua pasukan  tangguh inilah yang dianggap sebagai salah satu sumber rujukan bagi pertunjukan  tarian Reog Ponorogo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Pertunjukan Reog biasanya terdiri dari beberapa  adegan. Adegan pertama adalah tarian pembuka, yang menampilkan 6-8 lelaki  dengan pakaian hitam dan muka (atau topeng) yang dipoles warna merah. Para  penari ini menggambarkan sosok singa yang marah. Setelah para lelaki pemberani  tersebut, berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 perempuan atau bisa  juga lelaki yang didandani mirip perempuan yang menaiki kuda kepang  (kuda-kudaan dari anyaman bambu). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Fragmen kedua adalah inti dari tarian Reog yang  bergantung pada kondisi di mana seni Reog ditampilkan. Jika pertunjukan  berhubungan dengan pernikahan, maka yang diekplorasi adalah adegan percintaan.  Sedangkan untuk hajatan khitanan, sunatan, maupun memperingati hari besar  nasional biasanya yang ditonjolkan adalah fragmen keperwiraan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Bagian terakhir adalah &lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;singabarong&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, yaitu atraksi di mana  seorang penari memakai “topeng” berbentuk kepala singa dengan mahkota yang  terbuat dari bulu-bulu burung &lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;merak&lt;/span&gt;. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg dengan ukuran  yang cukup besar. Uniknya, topeng ini dimainkan hanya dengan mengigit sebilah  kayu yang terpasang di bagian belakang topeng. Kemampuan membawakan topeng ini,  selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diperoleh dengan  latihan spiritual, seperti ber&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;puasa&lt;/span&gt; dan ber&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;tapa&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Wisatawan yang tertarik menonton pertunjukan Reog  dapat mengunjungi agenda pertunjukan yang sifatnya tahunan. Kesenian Reog  biasanya diselenggarakan pada tiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia (tanggal  17 Agustus) dan perayaan &lt;em&gt;Garebek Suro&lt;/em&gt; yang bertepatan dengan hari jadi  Kota Ponorogo (tiap tanggal 1 Muharram/tahun baru Hijriah). Agenda tahunan  tersebut bisa berupa pertunjukan biasa atau Festival Reog Nasional, yaitu  perlombaan kesenian Reog dari seluruh Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;B. Keistimewaan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Pertunjukan Reog biasanya diselenggarakan di  lapangan atau di jalanan karena jumlah penari dan ekplorasi pertunjukan yang  memerlukan ruang yang cukup luas. Di arena pertunjukan Reog, penonton bisa  menikmati prosesi pertunjukan yang dipenuhi ritual mistis. Misalnya saja,  sebelum pertunjukan dimulai, &lt;em&gt;warok&lt;/em&gt; (sebutan bagi ketua kelompok Reog)  menggelar jampi-jampi memohon kelancaran pertunjukan. Tak jarang di  tengah-tengah tarian para penari kesurupan roh halus, sehingga menambah heboh  jalannya pertunjukan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Meskipun umumnya tarian Reog memiliki alur yang  jelas, akan tetapi adegan demi adegan dalam seni Reog biasanya tidak mengikuti  skenario yang tersusun rapi. Di sini selalu ada interaksi antara pemain dan &lt;em&gt;warok&lt;/em&gt; (dalam hal ini, &lt;em&gt;warok &lt;/em&gt;juga menjadi dalang pertunjukan), serta interaksi  antara penari dan penonton. Sehingga, yang terpenting dalam pementasan seni Reog  adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;C. Lokasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Kesenian Reog hampir merata diselenggarakan di  seluruh Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Akan tetapi, untuk tempat dan waktu  pertunjukan yang bersifat rutin, wisatawan dapat menikmatinya di Ibukota  Kabupaten Ponorogo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;D. Akses&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Untuk mencapai kota Ponorogo, wisatawan dapat  menempuh perjalanan melalui Kota Surabaya. Dari Ibukota Provinsi Jawa Timur  ini, kota Ponorogo berjarak 200 km ke arah barat-daya. Wisatawan bisa menumpang  kendaraan umum (bus) ataupun kendaraan pribadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;E. Harga Tiket&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Menikmati kesenian Reog tidak dipungut biaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Festival Reog Nasional biasanya diselenggarakan  selama beberapa hari karena banyaknya peserta baik dari dalam maupun luar kota  Ponorogo. Oleh sebab itu, bagi wisatawan yang membutuhkan penginapan bisa  menyewa hotel yang tersedia di beberapa tempat di kota Ponorogo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;(Lukman Solihin/wm/12/02-08)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/734505819861578117-6867513345491835754?l=pesona-nusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/feeds/6867513345491835754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/lambang-kabupaten-ponorogo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/6867513345491835754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/6867513345491835754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/lambang-kabupaten-ponorogo.html' title='Ponorogo selayang pandang'/><author><name>Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04257815193159286068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='06952615504009023226'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-734505819861578117.post-248416623215280042</id><published>2008-12-15T22:42:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T00:25:13.263-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ponorogo'/><title type='text'>Telaga Ngebel Ponorogo</title><content type='html'>&lt;div class="pagenavcounter"&gt;Halaman 1 dari 2&lt;/div&gt;&lt;img alt="" src="http://liburan.info/images/stories/ngebel.jpg" align="left" hspace="5" /&gt;Udara sejuk dan angin sego-sepoi menyelimuti obyek wisata Telaga Ngebel. Panorama asri dan indah mempesona pengunjungnya. Para pencari ikan asyik menangkapi penghuni telaga. Lalu sajian ikan bakar dari telaga kian menambah betah siapapun yang hadir disana.&lt;br /&gt;Telaga Ngebel cukup unik dan menarik dibandingkan dengan telaga-telaga lain yang ada di wilayah Jawa Timur. Telaga anggun yang cukup luas ini dikelilingi rimbunnya pepohonan lereng gunung. Kondisi alamnya sangat berprospek baik bila dikembangkan lebih lanjut bahkan dapat menjadi aset Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam meningkatkan perekonomian, khususnya bagi masyarakat sekitar obyek wisata itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga Ngebel ibarat tambang emas yang menunggu sentuhan investor, sehingga dapat bersolek dan menjadi ikon kedua di Kabupaten Ponorogo setelah kesenian Reog. Obyek wisata ini layak untuk dikunjungi lantaran masih bersuasana alami dan indah. Kondisi seperti ini dipastikan mampu menghilangkan kepenatan atau kelelahan usai didera kesibukan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon cerita yang berkembang di masyarakat, Telaga Ngebel mempunyai cerita unik yang didasarkan pada kisah seekor ular naga bernama "Baru Klinting". Sang Ular ketika bermeditasi secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan. Secara ajaib sang ular menjelma menjadi anak kecil yang mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak seorangpun berhasil mencabutnya. Lantas dia sendirilah yang berhasil mencabut lidi itu. Dari lubang bekas lidi tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk Telaga Ngebel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legenda Telaga Ngebel, terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon salah seorang pendiri Kabupaten ini yakni Batoro Kantong. Sebelum melakukan syiar Islam di Kabupaten Ponorogo, Batoro menyucikan diri terlebih dahulu di mata air, yang ada di dekat Telaga Ngebel yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;img alt="" src="http://liburan.info/images/stories/ngebel1.jpg" align="right" height="155" hspace="5" width="261" /&gt; Buat Jalan Tembus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Ponorogo Muhadi Sujono mengakui Telaga Ngebel memang cukup potensial untuk dikemhangkan menjadi daerah tujuan wisata sekaligus sebagai penopang ekonomi masyarakat maupun daerah kabupaten itu sendiri. Namun satu hal yang menjadi kendala aset menuju ke obyek ini baru bisa ditempuh melalui satu jalur, sehingga membuat para investor enggan melirik atau menanamkan modalnya untuk membangun obyek wisata pendukung (sport tourism) di telaga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu dekat, Kabupaten Ponorogo akan bekerja sama dengan kabupaten Madiun dan Nganjuk untuk membuat jalan tembus menuju ke Telaga Ngebel. "Saya akan mengusulkan rencana proyek ini ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar dapat segera terealisasi," kata Muhadi Sujono. Dia yakin dengan adanya beberapa alternatif jalan menuju obyek wisata Telaga Ngebel, tidak menutup kemungkinan investor akan tertarik untuk menanamkan modalnya disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Ponorogo, cukup kaya akan potensi pariwisatanya, baik wisata budaya maupun wisata alam. Salah satunya event nasional yang berakar dari tradisi masyarakat, yaitu Grebeg Suro yang biasanya digelar pada Festival Reog Nasional. Kegiatan ini dikemas secara matang sehingga cukup layak jual di pasar Wisata internasional. Event Grebeg Suro telah menjadi kalender wisata nasional, dan cukup menarik bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung di kota kecil di Jawa Timur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kesenian reog sudah menjadi identitas bagi kabupaten Ponorogo. Oleh karenanya kabupaten ini disebut juga dengan Kota Reog. Pentas seni reog sudah dikenal luas di Indonesia bahkan mancanegara. Di setiap sudut kota dapat dijumpai miniatur-miniatur reog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;img alt="" src="http://liburan.info/images/stories/ngebel2.jpg" align="left" height="154" hspace="5" width="205" /&gt; Tips Perjalanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0byek wisata Telaga Ngebel terletak sekitar 24 km kearah timur laut dari pusat kota Kabupaten Ponorogo Jawa Timur, tepatnya berada di Gunung Wilis dengan ketinggian 750 meter diatas permukaan laut, dengan suhu sekitar 22 derajad celcius. Luas permukaan telaga 15 km dengan dikelilingi jalan sepanjang 5 km. Panoramanya sangat indah dan menakjubkan. Udaranya sejuk dan kondisi alamnya masih asri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kawasan Telaga Ngebel, aneka ragam buah sepertu durian, manggis, dan pundung. Di Telaga Ngebel setiap satu tahun sekali diselenggarakan ritual budaya berupa Larungan Sesaji pada tahun baru Hijriyah/Tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah Travel Club&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta Lokasi :&lt;br /&gt;&lt;!--  // Plugin Google Maps version 2.10a // Parameters:  // - debug: 1 // - dir: 0 // - text: Telaga Ngebel // OK15: N head: N buf: N Header_send: N total: N // Mainframe header replace --&gt;&lt;!-- fail nicely if the browser has no Javascript --&gt; &lt;noscript&gt; Google Maps          &lt;/noscript&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div refreshmap="1" oldvalue="520" id="googlemap589_mvrry_0" style="overflow: hidden; width: 520px; height: 300px; position: relative; background-color: rgb(229, 227, 223);"&gt;&lt;div style="overflow: hidden; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 100%; height: 100%;"&gt;&lt;div style="position: absolute; left: -139px; top: 24px; z-index: 0; cursor: url(http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/openhand.cur), default;"&gt;&lt;div style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; display: none;"&gt;&lt;div style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; z-index: 0;"&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/transparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="position: absolute; left: 0px; top: 0px;"&gt;&lt;div style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; z-index: 0;"&gt;&lt;img src="http://mt0.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=102&amp;amp;y=65&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Gal" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: -158px; top: -312px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt2.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=102&amp;amp;y=66&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Gali" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: -158px; top: -56px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt0.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=102&amp;amp;y=67&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Galil" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: -158px; top: 200px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt1.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=103&amp;amp;y=65&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Galile" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 98px; top: -312px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt3.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=103&amp;amp;y=66&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Galileo" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 98px; top: -56px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt1.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=103&amp;amp;y=67&amp;amp;z=7&amp;amp;s=" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 98px; top: 200px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt2.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=104&amp;amp;y=65&amp;amp;z=7&amp;amp;s=G" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 354px; top: -312px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt0.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=104&amp;amp;y=66&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Ga" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 354px; top: -56px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt2.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=104&amp;amp;y=67&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Gal" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 354px; top: 200px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt3.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=105&amp;amp;y=65&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Gali" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 610px; top: -312px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt1.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=105&amp;amp;y=66&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Galil" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 610px; top: -56px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;img src="http://mt3.google.com/mt?v=ap.88&amp;amp;hl=en&amp;amp;x=105&amp;amp;y=67&amp;amp;z=7&amp;amp;s=Galile" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 610px; top: 200px; width: 256px; height: 256px; -moz-user-select: none;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; z-index: 102;"&gt;&lt;img class="gmnoprint" src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/shadow50.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 251px; top: 116px; width: 37px; height: 34px; -moz-user-select: none; z-index: 25152928;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; z-index: 104; cursor: default;"&gt;&lt;img class="gmnoprint" src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/marker.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; width: 20px; height: 34px; -moz-user-select: none; position: absolute; left: 251px; top: 116px; z-index: 25152928;" /&gt;&lt;img class="gmnoscreen" src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/markerff.gif" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 251px; top: 116px; width: 20px; height: 34px; -moz-user-select: none; z-index: 25152928;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; z-index: 106;"&gt;&lt;img usemap="#gmimap0" class="gmnoprint" src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/markerTransparent.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 251px; top: 116px; width: 20px; height: 34px; -moz-user-select: none; z-index: 25152928;" /&gt;&lt;map id="gmimap0" name="gmimap0"&gt;&lt;area id="mtgt_unnamed_0" href="javascript:void(0)" alt="" shape="poly" coords="9,0,6,1,4,2,2,4,0,8,0,12,1,14,2,16,5,19,7,23,8,26,9,30,9,34,11,34,11,30,12,26,13,24,14,21,16,18,18,16,20,12,20,8,18,4,16,2,15,1,13,0" log="miw"&gt;&lt;/map&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="-moz-user-select: none; position: absolute; left: 2px; bottom: 2px;" class="gmnoprint"&gt;&lt;a target="_blank" href="http://maps.google.com/maps?ll=-7.602108,112.994385&amp;amp;spn=3.266495,5.712891&amp;amp;z=7&amp;amp;key=ABQIAAAAYHs2lYdS0YWjzjCPSDBaBxRT_Kfvz19vQ_wRAXmTFomCJt8QYBQMGi44hR5rMGbon87L70DuPnfBgA&amp;amp;oi=map_misc&amp;amp;ct=api_logo" title="Click to see this area on Google Maps"&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/poweredby.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; width: 62px; height: 30px; -moz-user-select: none; cursor: pointer;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="ltr" style="-moz-user-select: none; position: absolute; right: 3px; bottom: 2px; color: black; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 11px; white-space: nowrap; text-align: right;" class="gmnoprint"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Map data ©2008  MapData Sciences Pty Ltd, PSMA, AND, Europa Technologies - &lt;/span&gt;&lt;a style="color: rgb(119, 119, 204);" target="_blank" href="http://www.google.com/intl/en_ALL/help/terms_maps.html"&gt;Terms of Use&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="gmnoprint" style="overflow: hidden; width: 59px; height: 256px; -moz-user-select: none; position: absolute; left: 7px; top: 7px; text-align: left;"&gt;&lt;div style="overflow: hidden; position: absolute; left: 0px; top: 0px; width: 59px; height: 62px;"&gt;&lt;div style="overflow: hidden; width: 59px; height: 62px;"&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/mapcontrols2.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: 0px; -moz-user-select: none; width: 59px; height: 458px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="overflow: hidden; position: absolute; left: 0px; top: 62px; width: 59px; height: 164px;"&gt;&lt;div style="overflow: hidden; width: 59px; height: 292px;"&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/mapcontrols2.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: -62px; -moz-user-select: none; width: 59px; height: 458px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="position: absolute; left: 0px; top: 226px; width: 59px; height: 354px; text-align: left;"&gt;&lt;div style="overflow: hidden; width: 59px; height: 30px; position: absolute;"&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/mapcontrols2.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: -354px; -moz-user-select: none; width: 59px; height: 458px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="position: absolute; left: 19px; top: 86px; width: 22px; height: 150px; cursor: pointer;"&gt;&lt;div title="Drag to zoom" style="overflow: hidden; width: 22px; height: 14px; position: absolute; left: 0px; top: 80px; cursor: url(http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/openhand.cur), default;"&gt;&lt;img src="http://maps.google.com/intl/en_ALL/mapfiles/mapcontrols2.png" style="border: 0px none ; margin: 0px; padding: 0px; position: absolute; left: 0px; top: -384px; -moz-user-select: none; width: 59px; height: 458px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="-moz-user-select: none; position: absolute; right: 7px; top: 7px; color: black; font-family: Arial,sans-serif; font-size: small; width: 200px; height: 20px;" class="gmnoprint"&gt;&lt;div id="amtc_option_0" title="Show street map" style="border: 1px solid black; position: absolute; background-color: white; text-align: center; width: 5em; cursor: pointer; right: 10.2em;"&gt;&lt;div style="border-style: solid; border-color: rgb(52, 86, 132) rgb(108, 157, 223) rgb(108, 157, 223) rgb(52, 86, 132); border-width: 1px; font-size: 12px; font-weight: bold;"&gt;Map&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="amtc_option_1" title="Show satellite imagery" style="border: 1px solid black; position: absolute; background-color: white; text-align: center; width: 5em; cursor: pointer; right: 5.1em;"&gt;&lt;div style="border-style: solid; border-color: white rgb(176, 176, 176) rgb(176, 176, 176) white; border-width: 1px; font-size: 12px;"&gt;Satellite&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="amtc_option_2" title="Show imagery with street names" style="border: 1px solid black; position: absolute; background-color: white; text-align: center; width: 5em; cursor: pointer; right: 0em;"&gt;&lt;div style="border-style: solid; border-color: white rgb(176, 176, 176) rgb(176, 176, 176) white; border-width: 1px; font-size: 12px;"&gt;Hybrid&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/telaga-ngebel-ponorogo-part-2.html"&gt;Berikutnya &gt;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/734505819861578117-248416623215280042?l=pesona-nusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/feeds/248416623215280042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/telaga-ngebel-ponorogo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/248416623215280042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/248416623215280042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/telaga-ngebel-ponorogo.html' title='Telaga Ngebel Ponorogo'/><author><name>Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04257815193159286068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='06952615504009023226'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-734505819861578117.post-8934897270629363752</id><published>2008-12-15T22:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T00:25:13.264-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ponorogo'/><title type='text'>Telaga Ngebel Ponorogo Part 2</title><content type='html'>&lt;!-- JW AJAX Vote Plugin v1.1 ends here --&gt;                   &lt;img src="http://liburan.info/images/stories/keteppass.jpg" alt="" align="left" height="117" hspace="5" width="155" /&gt;Pagi itu, Rusyan ( 24 ) salah satu petugas Ketep Pass mengatur satu persatu mobil yang mau masuk ketempat wisata tersebut. Walaupun tampak raut wajah yang kepanasan namun suaranya tetap keras dan terdengar bersemangat membantu setiap mobil yang akan parkir dan mempersilahkan tamu yang datang untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana lebaran biasanya dilewatkan bersama dengan keluarga besar. Namun demikian tidak dengan Rusyan yang terus bertugas di Ketep Pass. Bahkan dia mengatakan,” Ketika musim-musim liburan, termasuk lebaran, biasanya pengunjung yang datang bisa dua kali lipat dari hari biasa bahkan bisa lebih, untuk itu kita semua disini harus bertugas. Lumayan, ada tambahan penghasilan, “ kata Rusyan sambil tersenyum. Benar saja, walaupun saat itu jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, sudah ada sepuluh mobil parkir di shelter Ketep Pass.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketep Pass atau Bukit Ketep, terletak pada ketinggian 1200 meter dpl ( di atas permukaan air laut ). Luas areanya kurang lebih 8000 meter persegi. Dapat ditempuh dari Desa Blabak ke arah timur, 30 km dari Kota Magelang dan 35 km dari Kota Boyolali. Dari Kota Salatiga yang berjarak sekitar 32 km, dapat dicapai melalui Kopeng dan Desa Kaponan. Kami sendiri mengambil arah dari Magelang ( Blabak ), dimana seluruh jalan yang kami lalui dari Blabak sampai Ketep Pass mulus dan bisa memacu kendaraan antara 60 – 70 km / jam. Setelah memasuki desa Blabak, kita banyak melewati persawahan penduduk yang terlihat rapi, bersih dan enak dipandang mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://liburan.info/images/stories/keteppass1.jpg" alt="" align="right" height="155" hspace="5" width="205" /&gt; Atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah H.Mardiyanto, dipilihlah tanah berbukit ini untuk dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata baru di jalur Solo – Selo – Borobudur dengan ciri khas wisata kegunungapian. Ketika diresmikan oleh Presiden RI Megawati waktu itu, pada tanggal 17 Oktober 2002 baru dibangun dua gardu pandang dan pelataran. Dengan keunggulan panorama yang atraktif Gunung Merapi – Merbabu, hamparan teras-teras tanah pertanian serta kesejukan udara Ketep Pass semakin menambah ramainya pengunjung baik di hari biasa maupun di hari libur.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Pagi itu memang cuaca sangat cerah, sehingga kami bisa melihat Puncak Merapi dengan jelas dari gardu pandang Ketep. Selain itu, kita bisa mengetahui seluk beluk merapi dengan masuk Volcano Theatre hanya dengan tambahan biaya lima rupiah per orang. Volcano Theatre baru dibangun awal 2003 yang menyajikan film tentang Merapi dengan berbagai aktifitas vulkaniknya. Fasilitas baru ini makin memperkuat ciri Ketep Pass sebagai tempat wisata kegunungapian. Memasuki bangunan seluas 550 meter persegi ini, seperti memasuki ruangan bioskop, karena memang bentuknya ditata seperti itu. Film yang diputar dimulai informasi umum tentang gunung berapi yang tersaji dalam bentuk gambar, foto dan peta dalam format besar, selanjutnya pengunjung diajak menggali dan menikmati berbagai koleksi gunung berapi melalui perangkat multi media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://liburan.info/images/stories/keteppass2.jpg" alt="" align="left" hspace="5" /&gt; Contoh batuan yang dilengkapi dengan informasi teknis menjadi sajian berikutnya. Panorama Merapi dalam berbagai tampilan akan mengantar pengunjung pada sajian utama yaitu miniatur Merapi dalam ukuran cukup besar. Secara umum informasi tentang Merapi dapat kita peroleh secara relatif lengkap dari dulu hingga sekarang. Di bagian paling atas Ketep Pass ada Pelataran Panca Arga, dari sini kalau cuaca cerah kita dapat menikmati lima puncak gunung, yaitu G.Merapi, G.Merbabu, G.Sindoro, G.Sumbing dan G.Slamet. Selain itu akan tampak gunung-gunung kecil lain seperti Telomoyo, Andong, Dataran Tinggi Dieng serta perbukitan Menoreh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkeliling Ketep Pass, kita bisa menikmati asyiknya makan jagung bakar dan gorengan yang berjejer di seberang Ketep Pass. Dengan hawa yang sejuk, angin sepoi-sepoi dan panorama khas pegunungan memang memberikan nuansa yang berbeda. Bukit Ketep kini telah menjadi tempat tujuan wisata yang menarik dengan cirri khas sajiannya yaitu kegunungapian. Atraksi wisata yang tidak hanya bersifat rekreatif tetapi sarat dengan kandungan pendidikan yang tersaji secara atraktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : AMGD&lt;br /&gt;Lokasi : Ketep, Sawangan, Magelang&lt;br /&gt;Fotografer : AMGD&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.navigasi.net/"&gt;Navigasi.Net&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/telaga-ngebel-ponorogo.html"&gt;kembali&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/734505819861578117-8934897270629363752?l=pesona-nusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/feeds/8934897270629363752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/telaga-ngebel-ponorogo-part-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/8934897270629363752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/734505819861578117/posts/default/8934897270629363752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesona-nusantara.blogspot.com/2008/12/telaga-ngebel-ponorogo-part-2.html' title='Telaga Ngebel Ponorogo Part 2'/><author><name>Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04257815193159286068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='06952615504009023226'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>