Alam yang indah merupakan daya tarik tersendiri apalagi ditambah meriahnya pesta adat. Ya ponorogo lah yang memiliki itu semua. Disamping memiliki alam yang asri ponorogo juga memiliki kesenian tradisional yang sangat menarik untuk dinikmati. Cotohnya "Reyog" yang menjadi andalan sekaligus primadona di kota yang dikenal dengan julukan kota reyog tersebut. Berikut cuplikan mitos asal muasal reog:
"Patih Bujang Ganong meliuk-liukkan tubuhnya.Mencoba menghindar dari sergapan Singo Barong dan Dhadhak Merak.Sembari ketakutan,sosok bermuka merah dengan rambut acak-acakan di depan wajahnya itu berlari-lari menuju Raja Kelana Sewandana,yang sedang gundah gulana menanti cinta
Putri Songga Langit,Putri Raja Kerajaan Kediri.Mendapat laporan sang patih,Kelana Sewandana pun murka.
Senjata pusaka cemeti Pecut Samandiman pun diarih,dan digunakan Kelana Sewandana untuk menghajar Singa Barong dan Dhadhak Merak.Dua binatang yang awalnya ganas dan beringas itu pun tunduk.Dengan satu lecutan,Kelana Sewandana mengutuk mereka menjadi Reog,binatang berkepala dua.Mitos awal mula bersatunya Singo Barong dan Dhadhak Merak itu diabadikan dalam pagelaran Reog asal kota ponorogo,kemudian dikenal Reog Ponorogo.
Tidak jelas benar,kapan pertama kali kesenian Reog Ponorogo dimainkan.Yang pasti,kesenian yang awalnya adalah kesenian rakyat itu selalu hadir dalam event-event khusus dan menjadi ikon kota seluas 1.402 m persegi itu.Terutama event pergantian tahun Jawa atau Grebeg Suro,yang sekaligus bersamaan dengan pergantian tahun Islam.". Mitos yang mengingatkan kita akan sejarah perjalanan nenek moyang dahulu.
Selain itu setiap tanggal 1 Muharam Suro, kota Ponorogo menyelenggarakan Grebeg Suro yang juga merupakan hari lahir Kota Ponorogo. Dalam even Grebeg Suro ini diadakan Kirab Pusaka yang biasa
diselenggarakan sehari sebelum tanggal 1 Muharram. Pusaka peninggalan pemimpin Ponorogo jaman dulu,saat masih dalam masa Kerajaan Wengker, diarak bersama pawai pelajar dan pejabat pemerintahan di Kabupaten Ponorogo, dari Makam Batoro Katong (pendiri Ponorogo) di daerah Pasar Pon sebagai kota lama, ke Pendopo Kabupaten. Pada Malam harinya, di aloon-aloon kota, Festival Reog Internasional memasuki babak final. Esok paginya ada acara Larung Do'a di Telaga Ngebel, dimana nasi tumpeng dan kepala kerbau dilarung bersama do'a ke tengah-tengah Danau Ngebel. Even Grebeg Suro ini menjadi salah satu jadwal kalender wisata Jawa Timur.
Disamping itu di ponorogo kita akan disuguhi pemandangan alam yang masih perawan dan belum tereksploitasi oleh tangan manusia, sebut saja Telaga ngebel. Telaga ini merupakan ikon kedua di Kabupaten Ponorogo setelah kesenian Reog.Obyek wisata ini layak untuk dikunjungi lantaran masih bersuasana alami dan indah. Kondisi seperti ini dipastikan mampu menghilangkan kepenatan atau kelelahan usai didera kesibukan sehari-hari.
Dibalik itu Telaga Ngebel mempunyai cerita unik yang didasarkan pada kisah seekor ular naga bernama "Baru Klinting". Sang Ular ketika bermeditasi secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan. Secara ajaib sang ular menjelma menjadi anak kecil yang mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.
Namun tak seorangpun berhasil mencabutnya. Lantas dia sendirilah yang berhasil mencabut lidi itu. Dari lubang bekas lidi tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk Telaga Ngebel.
Meskipun belum pernah menginjakkan kaki di ponorogo tetapi nuansa keindahan sudah terasa dan menjalar diseluruh tubuh bak memanggil-manggil untuk didatangi.dan ke eksotisan nya pun takkan pernah pudar dari ingatan. Angan-angan pun menjalar seperti kenyataan.
Taken from: many sources
Putri Songga Langit,Putri Raja Kerajaan Kediri.Mendapat laporan sang patih,Kelana Sewandana pun murka.
Dibalik itu Telaga Ngebel mempunyai cerita unik yang didasarkan pada kisah seekor ular naga bernama "Baru Klinting". Sang Ular ketika bermeditasi secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan. Secara ajaib sang ular menjelma menjadi anak kecil yang mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.
2 komentar:
mari lestarikan budaya bangsa :)
ngebel.....
indah...
sejuk....
banyak kenangan,,,,,
selalu jadi kenangan,,,,
ok deh pokok na,,,