Ponorogo Menebar Pesona
19.24 | Author: Islam

40px-Lambang_propinsi_jatim Alam yang indah merupakan daya tarik tersendiri apalagi ditambah meriahnya pesta adat. Ya ponorogo lah yang memiliki itu semua. Disamping memiliki alam yang asri ponorogo juga memiliki kesenian tradisional yang sangat menarik untuk dinikmati. Cotohnya "Reyog" yang menjadi andalan sekaligus primadona di kota yang dikenal dengan julukan kota reyog tersebut. Berikut cuplikan mitos asal muasal reog:  

  "Patih Bujang Ganong meliuk-liukkan tubuhnya.Mencoba menghindar dari sergapan Singo Barong dan Dhadhak Merak.Sembari ketakutan,sosok bermuka merah dengan rambut acak-acakan di depan wajahnya itu berlari-lari menuju Raja Kelana Sewandana,yang sedang gundah gulana menanti cinta Putri Songga Langit,Putri Raja Kerajaan Kediri.Mendapat laporan sang patih,Kelana Sewandana pun murka.
   Senjata pusaka cemeti Pecut Samandiman pun diarih,dan digunakan Kelana Sewandana untuk  menghajar Singa Barong dan Dhadhak Merak.Dua binatang yang awalnya ganas dan beringas itu pun tunduk.Dengan satu lecutan,Kelana Sewandana mengutuk mereka menjadi Reog,binatang berkepala dua.Mitos awal mula bersatunya Singo Barong dan Dhadhak Merak itu diabadikan dalam pagelaran Reog asal kota ponorogo,kemudian dikenal Reog Ponorogo.
   Tidak jelas benar,kapan pertama kali kesenian Reog Ponorogo dimainkan.Yang pasti,kesenian yang awalnya adalah kesenian rakyat itu selalu hadir dalam event-event khusus dan menjadi ikon kota seluas 1.402 m persegi itu.Terutama event pergantian tahun Jawa atau Grebeg Suro,yang sekaligus bersamaan dengan pergantian tahun Islam.".
Mitos yang mengingatkan kita akan sejarah perjalanan nenek moyang dahulu.

   Selain itu setiap tanggal 1 Muharam Suro, kota Ponorogo menyelenggarakan Grebeg Suro yang juga merupakan hari lahir Kota Ponorogo. Dalam even Grebeg Suro ini diadakan Kirab Pusaka yang biasa  diselenggarakan sehari sebelum tanggal 1 Muharram. Pusaka peninggalan pemimpin Ponorogo jaman dulu,saat masih dalam masa Kerajaan Wengker, diarak bersama pawai pelajar dan pejabat pemerintahan di Kabupaten Ponorogo, dari Makam Batoro Katong (pendiri Ponorogo) di daerah Pasar Pon sebagai kota lama, ke Pendopo Kabupaten. Pada Malam harinya, di aloon-aloon kota, Festival Reog Internasional memasuki babak final. Esok paginya ada acara Larung Do'a di Telaga Ngebel, dimana nasi tumpeng dan kepala kerbau dilarung bersama do'a ke tengah-tengah Danau Ngebel. Even Grebeg Suro ini menjadi salah satu jadwal kalender wisata Jawa Timur.

   Disamping itu di ponorogo kita akan disuguhi pemandangan alam yang masih perawan dan belum  tereksploitasi oleh tangan manusia, sebut saja Telaga ngebel. Telaga ini merupakan ikon kedua di Kabupaten Ponorogo setelah kesenian Reog.Obyek wisata ini layak untuk dikunjungi lantaran masih bersuasana alami dan indah. Kondisi seperti ini dipastikan mampu menghilangkan kepenatan atau kelelahan usai didera kesibukan sehari-hari.

   Dibalik itu Telaga Ngebel mempunyai cerita unik yang didasarkan pada kisah seekor ular naga  bernama "Baru Klinting". Sang Ular ketika bermeditasi secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan. Secara ajaib sang ular menjelma menjadi anak kecil yang mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.

    Namun tak seorangpun berhasil mencabutnya. Lantas dia sendirilah yang berhasil mencabut lidi itu. Dari lubang bekas lidi tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk Telaga Ngebel.

  Meskipun belum pernah menginjakkan kaki di ponorogo tetapi nuansa keindahan sudah terasa dan menjalar diseluruh tubuh bak memanggil-manggil untuk didatangi.dan ke eksotisan nya pun takkan pernah pudar dari ingatan. Angan-angan pun menjalar seperti kenyataan.


Taken from: many sources

 

Air Terjun - Cobanrondo
23.44 | Author: Islam

  Objek wisata Cobanrondo telah berubah, itulah kesan yang saya peroleh setelah lebih dari lima tahun tidak pernah berkunjung lagi kelokasi tersebut. Betapa tidak, dulu waktu berkunjung  ke lokasi ini,  nuansa alami masih terasa cukup kental ditandai dengan hijau dan wangi pohon pinus beserta dinginnya udara dan air pegunungan. Sekarang, mungkin karena perubahan cuaca global suhu yang ada sudah tidak sedingin beberapa tahun yang lalu. Pepohonan pinus yang ada nampaknya juga mulai dihiasi dengan warna coklat tanda kekeringan :( Air terjun yang mengalir juga tidak sederas dulu lagi, namun masih mampu meberikan daya tarik untuk dikunjungi.

Objek wisata Cobanrondo telah mengalami pembangunan atau pembenahan terhadap berbagai sarana dan prasarana yang ada. Bisa dilihat dari jalan aspal menuju lokasi yang telah dibangun lebih baik dan mulus mulai gerbang masuk hingga ke areal parkir yang saat ini telah mampu menampung berpuluh-puluh mobil. Kedai-kedai makanan juga banyak didirikan dan berjajar rapi ditepi areal parkir. Fasilitas mushola dan kamar kecil juga dibangun dengan cukup baik, memudahkan pengunjung untuk beribadah disela-sela kegiatan wisatanya.

  Sekarang, tidak hanya air terjun yang menjadi sentra wisata di lokasi ini. Pembangunan lokasi   bermain untuk anak-anak dan kebun binatang mini nampaknya  bisa menjadi alternatif dan mampu sedikit mengurangi konsentrasi kepadatan wisata di sekitar lokasi air terjun. Ya, objek wisata air terjun Cobanrondo ini memang sejak dulu merupakan salah satu tujuan wisata di kabupaten Malang, bersaing erat dengan objek wisata lain semacam Songgoriti, Sengkaling, Selorejo, Selekta dan Cangar. Dan nampaknya pemda setempat memang berusaha untuk menjadikannya sebagai salah satu sumber pemasukan pendapatan daerah melalui pembenahan-pembenahan yang telah dilakukan.

Air terjun Cobanrondo memiliki ketinggian 84 meter, berada pada ketinggian 1135 meter dari permukaan air laut, tepatnya didesa Pandesari Kecamatan Pujon, kabupaten malang. Air yang mengalir berasal dari sumber mata air Cemoro Dudo. Objek wisata ini pertamakali dibangun pada tahun 1980 dan merupakan bagian dari wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH), Perum Perhutani Malang. Dari data statistik yang ada, air terjun Cobanrondo memiliki debit air 150 liter/detik, sedangkan pada musim kemarau hanya 90 liter/detik. Selain untuk tujuan wisata, air terjun Cobanrondo juga digunakan untuk pengelolaan air minum melalui PDAM untuk masayrakat Kecamatan Pujon.

Air terjun Cobanrondo memiliki kolam penampungan air yang dangkal, dengan ketinggian yang tidak lebih tinggi dari betis orang dewasa, praktis tidak dimungkinkan bagi pengunjung untuk berenang di dalamnya. Namun dengan dangkalnya kolam penampungan air ini nampaknya mampu menarik minat pengunjung terutama anak-anak kecil untuk bermain-main air tanpa takut tenggelam. Bahkan beberapa anak kecil nampak berbaring atau tidur-tiduran di kolam penampungan air terjun tersebut sambil menikmati kesegaran airnya.  

Di akhir minggu terlebih dihari libur besar semacam lebaran dan tahun baru, kawasan ini memang banyak dipadati oleh pengunjung yang datang dari berbagai tempat dan tak jarang berasal dari luar kota. Sebagian besar pengunjung yang datang didominasi oleh kaum remaja. Mereka menghabiskan waktu ditempat ini dengan duduk-duduk disekitar air terjun, bermain air dibawah limpahan air terjun atau dibagian sungainya. Terkadang juga banyak ditemui duduk bergerombol disalah satu sisi bukit yang menampilkan panorama kota Malang dari ketinggian sambil menikmati jagung bakar. Bagi pengunjung yang ingin berkemah, juga telah disediakan area tersendiri yang berada di lokasi hutan pinus, tak jauh dari loaksi air terjun. Dengan demikian boleh dibilang objek wisata air terjun Cobanrondo, merupakan objek wisata yang telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup lengkap bagi pengunjung untuk dinikmati bersama teman maupun keluarga, secara perorangan maupun berkelompok.

Legenda .............
Asal-usul Cobanrondo berasal dari sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita yang bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah usai pernikahan mencapai 36 hari (selapan) Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orangtua Dewi Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena baru selapan. Namun keduanya bersikeras pergi berangkat dengan segala resiko apapun yang akan terjadi diperjalanan.
Ketika dalam perjalanan, keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono yang tidak jelas asl usulnya. Tampaknya Joko Lelolono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Perkelahian tidak dapat dihindarkan, kepada punokawan yang menyertainya Raden baron berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan diseuatu tempat yang ada Cobannya (air terjun). Perkelahian berlangsung dan akhirnya sama-sama gugur, dengan demikian akhirnya Dewi Anjarwati menjadi janda (Jawa, Rondo = Janda).
Sejak saat itulah, Coban tempat tinggal Anjarwati menanti suaminya dikenal sebagai Coban Rondo. Konon batu besar yang berada dibawah air terjun  merupakan tempat duduk sang putri.

Sources: http://navigasi.net/goart.php?a=atcbnrnd